Tuesday, October 25, 2005

Why study economics?

Sewaktu SMA, saya bercita-cita jadi konglomerat. Alasannya karena setiap hari sepanjang 2 jam perjalanan dari rumah di cibubur ke sekolah di SMA 14 cililitan, yang saya saksikan adalah parade kenestapaan anak negeri, mulai dari perumahan kumuh, pasar becek, tumpukan sampah di sepanjang jalan, bazaar murahan pedagang kaki lima, orkes pengamen anak-anak jalanan, sampai terminal bau pesing yang saya harus transit di situ setiap hari-nya.
Dan untuk jadi konglomerat, saya harus ngerti ekonomi. Maka di UMPTN saya pilih FEUI. Alhamdulillah keterima, dan masuklah saya di kampus ekonomi terbaik di negeri ini (katanya!).
Ketika di FEUI saya menyadari bahwa untuk mengubah negeri ini tidak mesti harus jadi konglomerat, jadi birokrat juga bisa. Bahkan mungkin peluang merubah negeri bisa lebih besar karena ia berada di posisi sebagai policy makers. Maka saya masuk jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan, dan melupakan mimpi jadi konglomerat dengan tidak memilih jurusan manajemen atau akuntansi.
Tapi apa lacur, ternyata ekonomi yang saya pelajari justru adalah ilmu yang menjadi sumber kenestapaan negeri ini! Inilah wajah Indonesia setelah 60 tahun merdeka: Penduduk dibawah garis kemiskinan 52,4% (dengan garis kemiskinan $2 sehari), pengeluaran konsumsi 10% penduduk termiskin hanya 3,6% dari total, jauh dari pengeluaran konsumsi 10% penduduk terkaya yang 28,5% dari total. Hutan-hutan gundul, air tercemar, udara penuh timbal, pantai habis dimakan abrasi, dst. Ribuan rekomendasi kebijakan pembangunan lahir dari ilmu ekonomi, namun yang kita saksikan adalah ketimpangan, kemiskinan, dan kehancuran lingkungan. Siapa yang salah? Ilmu ekonomi? Ekonom-nya? atau Pak Harto?
Excuse yang sering muncul adalah: "kesalahan bukan pada teori, tetapi pada implementasi", "keputusan ekonomi seringkali diintervensi oleh kepentingan non-ekonomi", dsb. Well, mungkin itu benar. Tetapi mengapa ketika pertumbuhan ekonomi tinggi, sektor perbankan tumbuh pesat, pasar modal terus menggelembung, namun pada saat yang sama kemiskinan dan ketimpangan tetap terus menyertai, bahkan dengan derajat yang semakin tinggi? Mengapa dunia tumbuh dengan iringan tragedi di belakangnya?
Inilah wajah dunia hari ini: setiap jam 1.200 anak meninggal karena kemiskinan, setiap tahun 10,7 juta anak hidup tanpa punya harapan merayakan ulang tahun-nya yang ke-5, 500 individu terkaya di dunia memiliki pendapatan lebih besar dari 416 juta penduduk termiskin, 2,5 milyar orang (40% penduduk dunia) hidup dengan pendapatan kurang dari $2 sehari – setara dengan 5% pendapatan dunia, 10% penduduk terkaya dunia menguasai 54% dari total pendapatan dunia.
Mengapa pembangunan ekonomi berwajah begitu beringas? Mengapa si kaya tidak mau membantu si miskin? Padahal untuk mengangkat 1 milyar manusia dari batas kemiskinan absolut $1 sehari, hanya dibutuhkan $300 milyar – sekitar 1,6% dari total pendapatan 10% penduduk terkaya dunia. There must be something wrong with (conventional) economics.
Mungkin benar kata Heilbroner and Thurow (1994), “… the market is an insufficient instrument for provisioning society, even rich societies … the market is assiduous servant of the wealthy, but indifferent servant of the poor … market system promote imorality, it is not just an economic failure, but it is also a moral failure …”
Jadi, harus semakin banyak dari kita yang mempelajari economics, untuk mereformasi, bahkan mengganti (conventional) economics. Saya menyebutnya fardhu kifayah.

Labels:

1 Comments:

At Tuesday, July 08, 2008 3:16:00 PM, Anonymous Anonymous said...

mas ucup bisa dijelaskan hubungan perbankan syariah dgn the FED nya Amerika?

Thanks

 

Post a Comment

<< Home